I know none could overcome an entropy but either Constancy could kill a soul slowly.

I remember saying this some lifetime ago 

Review: Neil Gaiman- Samudera di Ujung Jalan Setapak

image

Setelah sekian lama absen dalam membaca buku genre fantasi akhirnya saya membeli juga buku karangan Neil Gaiman, pengarang dari negeri spesialis genre fantasi alias Inggris.

Buku fantasi adalah jenis buku yang pertama membuat saya ketagihan membaca dan memilih buku bagus dalam jenis ini juga ternyata merupakan proses yang sangat sulit. Untuk membuat buku fantasi yang bagus, pengarang harus membuat konsep yang solid tentang dunia yang mereka “ciptakan”. Eksekusi yang buruk bisa membuat jalan cerita terkesan “rapuh” dan moral cerita tak sampai karena pembaca lebih terfokus pada kejanggalan yang ada di sana-sini. Oleh karena itu, pengarang fantasi yang berhasil memecahkan rintangan ini langsung diserbu pembaca yang haus tentang dongeng ajaib. Sebut saja Tolkien atau JK Rowling.

Sebelumnya saya sudah pernah baca buku Gaiman sebelumnya, Stardust  tapi karena menurut saya fondasi ceritanya kurang kuat jadi saya ga begitu kepingin lanjut baca novelnya yang lain. Di luar dugaan, Samudera di Ujung Jalan Setapak memberi rasa yang sama sekali berbeda. Alih-alih setting abad pertengahan di dunia biasa yang sering dipakai karena mirip (atau dimirip-miripkan) teknologi di dunia fantasi, Gaiman membuka cerita dengan setting dunia sekarang. Lengkap dengan mobil dan segala teknologi canggih lainnya. Negeri ajaib yang Gaiman sajikan kali ini, bersembunyi dalam bentuk yang paling sederhana dibandingkan Tembok besar Stardust yang mengundang teka-teki. Dalam bentuk kolam bebek di tanah pertanian keluarga Hempstock. 

Dongeng ini bercerita tentang tokoh Aku yang mengingat dan melupakan. Agaknya Gaiman lagi-lagi ingin bercerita mengenai proses menjadi dewasa. Kekuatan aneh terlepas ketika si penambang opal yang menyewa kamar bekas tokoh si Aku yang masih berumur 7 tahun bunuh diri di mobil curian kepunyaan keluarganya. Dimulai dengan peristiwa-peristiwa aneh di mana makhluk-makhluk memberikan koin, sesuatu yang mereka kira manusia paling butuhkankan, dengan cara-cara yang aneh dan puncaknya dengan masuknya makhluk itu dengan wujud nyata ke dunia kita melalui jalan yang ditanamnya di dalam tubuh tokoh si Aku. 

Dalam prosesnya, tokoh Aku banyak bertanya-tanya apa akankah ada perbedaan sikap yang ia berikan antara saat ia hanya seorang bocah atau dewasa seperti sekarang terhadap situasi-situasi di mana ia berhadapan dengan Ursula Monkton. Dibantu dengan Lettie dan perempuan keluarga Hempstock yang sedari dulu kala menguni tanah pertanian yang penuh misteri, si Aku berhasil mengusir kekuatan itu degan bayaran yang cukup mahal: jiwa Lettie, kesadaran akan apa yang bisa dilakukan oleh orang dewasa dan ingatannya. 

Salah satu adegan yang cukup menarik adalah ketika Lettie membawa “samudera” di dalam ember kecilnya untuk mengobati tokoh Aku. “Samudera” yang didalamnya memuat segala pengetahuan dari asal kebermulaan membuata tokoh Aku menyadari tentang mengetahui segalanya berarti menjadi kekosongan karena eksistensinya berpencar untuk mengetahui segalanya. 

Agaknya terlalu  banyak elemen absurd yang bisa membuat pembaca tersesat ketika membaca buku Gaiman yang satu ini tapi ketegangan yang ada lumayan cukup untuk menahan buku ini ditutup :) 

Tentang Inkonsistensi

image

cemaskah aku kalau nanti air hening kembali 
cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi 

Narsisus - SDD

gambar dari sini

polemloginz:

"A cool way to defy school is to work on more advanced material than what you’re covering in class. If I went back to school this is what I would do.

In Spanish class, learn Arabic or Russian.

In Algebra I, learn trigonometry or even higher if you dare.

In English class, read some heavy Russian…

kalengikansarden:

image

Halo, orang percaya tanpa tapi.

Hargai deh, orang yang menemukan Allah dengan mental menjelajahi beragam alam pemikiran. Karena pada dasarnya itulah yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s dan Salman Al Farisi.

Itulah potensi yang ditakdirkan Allah untuk ia gunakan dalam mencari kebenaran.

Dan,…

these very scenes below have traumatized me over years

Spirited Away , Studio Ghibli

"My parents are turning into pigs in front of my eyes" - Chiaki

Grave of The Fireflies, Studio Ghibli 

"My younger sister is dying out of hunger in front of my eyes" - Seita

I watched those movies when I was probably in second grade of elementary but the effect is huge. 

It is definitely a different way to introduce how life works with ones you see from Disney. 

Tags: random

FACT #1

Men will not be less manlier when their hold their own child 

.

.

It annoys me everytime I go out and see how mothers ,particularly in Indonesia, are commonly seen holding their child (not to mention while carrying their handbag also) while the dads are leisurely walking without any sense of guilt whatsoever.

.
This is not a feminist-kind-of post but I beg for mere common sense. Wives bear the child for 9 months long and feed them for another 6 months. I know how strong mothers are when it’s about their child’s matter BUT still.. their bodies are fatigue and it is just not right if old-fashioned dads out there, especially ones freshly made out of pure patriarchal society, object their obligation to take care their own children just because they thought how men should only make money for the family.

.

And there is this thought how holding your own child in public could make you less cool or manlier or whatever..

Which is so wrong. 

I don’t know about you but I couldn’t find anything more right than these pictures above. 

.

.

So, patrichial archaic dads out there, move aside! :>

.

PS. Those pictures are taken from this reality show called The Return of Superman (Believe me, the program is much better than how it sounds)

Tags: dads

Don’t mind the language.
Click the link and see why you will never get lost in South Korea
(as long as you have internet connection that is) 

I was mindlessly searching how public transportation works in Korea for upcoming trip when I found some blog talking about online map with so-called 3D and road view released by one of advanced search engine developer company called “Daum” (which means “Next”) that you can easily access through search engine or even more convenient, through its Application in smartphones (preferably Android ofcourse in this land where the user is nearly  87.2%) 

It blows me on how much latest technology application could actually make life much much easier in developed countries . Being tourists, especially independent ones (on top of that, beginner ones) making holiday itinerary is not an easy deal. 
It feels like completing the puzzle that you’ve never seen. Roads you’ve never walked on. Almost feels like fullfilling a mission impossible. 

But hey, in this 21th century those problems are no more 

.

.

This ROAD VIEW application solves your problems.
(Apparently, Google and Naver make similar app as well. But some people told me that they no one actually using Google there *mindblow )

This application gives us the actual view of surroundings by dragging it 360 degree so you basically walking “virtually” through this Road View application. 

.
If, let’s say, you lost your way and you’re not sure where your current location is, you can easily check it by comparing your surrounding with one you see in this app 
(Not a mere picture no more. So yup,welcome to 21th century where you can walking virtually and bionics are actually exist *currentrealityjustsinksin*)

.

.

So, what do you think?

Tags: technology

Cerita: Tentang Kapal (1)

Baru-baru ini ada satu fakta dari pelajaran geografi yang terus melekat di kepalaku. Bumi: sepertiga daratan, dupertiga lautan. Bumi: duapertiga lautan, sepertiga lautan. Kalimat itu terus berputar, berulang-ulang teratur seperti siklus, di dalam repetisi dan ritme yang sama.
Seperti Mantra.


Ah, maukah aku beritahu sebuah rahasia tentang seperti iapa  kehidupan sebenarnya ?

Masing-masing dari kita adalah pelaut yang mengembara di atas kapal yang bergoyang. Dua pertiga lautan. Diam-diam sebenarnya kita sedang mengambang dibalut ombak yang beriak tak kelihatan. Pejamkan matamu sekarang. Ssst! Tidakkah kau dengar? Burung camar baru saja menertawakan kebutaanmu dari kejauhan. Tapi jangan terlalu sakit hati kau dibuatnya. Kebanyakan orang bahkan tidak tah ketika mereka megap-megap kehabisan oksigen karena tenggelam. Begitulah kita bersiliweran di dalam kapal-kapal cokelat dengan layar putih yang mengembang, sauh sudah lama dilepas dan berlayarlah kita entah kemana.

Aku pun baru mengetahui kebenaran itu. Tidak lama setelah air mulai merembes ke dasar lambung kapalku, dan membasahi seluruh kaos kakiku. Jangan tanya kenapa aku bisa merasakan basahnya air asin itu. Aku juga sudah lama kepingin tahu. Ketika bahkan orang-orang yang megap-megap tak tahu sedang tenggelam, aku sudah merasakan tetesan air diam-diam merangkak ke atas lututku. Akhirnya rasa penasaran menuntunku untuk menjelajahi kapal yang ternyata sudah aku tumpangi seumur hidup itu. Salah seorang kelasi (tidak lama kemudian aku tahu bahwa kelasinya ternyata hanya satu) memberitahuku (mungkin aku nampak seperti penumpang yang kebingungan) tentang sejarah kapal yang kutumpangi ini. Sambil memegang dinding lambung yang mulai lembab, ia mulai berkisah. 

gambar dari sini

Tags: cerita fiksi

Are You A Gentleman? : Way to Appreciate Everyday’s Heroes

If there is one thing that I like about Korean variety shows is that  its unique ability to be able to explore its own society and turn it into something that even foreigners are able to relate with. 

Just this day, I came accross to this program called "Are You A Gentleman?", hosted by Shin Dong Yeop, a famous nationwide MC and directed by PD Lee Yeong Don. Apparently, the program’s intention is to find a gentlemen: a Konglish term to address those people with good manners and in this program’s context, (I assumed) the “Everyday’s Heroes”. It’s pretty much like the old indonesian tv show called “Tolong!”(if some of you may recall), but in much advanced version with lots and lots of cameras :>

image


So basically in this show, they created some sort of difficult yet familiar scenarios to “test out” the citizens: are they going to help out those in need in situation or just standby in alert while not doing anything?
Of course, it is understandable to stay alert in those kind of situations and calculating what could and should we do. Sure, we don’t want bad things turned into worse or even risk our lives by helping someone so we do calculate and I’m not saying that it is wrong to calculate but seeing this program made me think

Maybe we calculate too much? Maybe we have became this crooked of person that already think that we have too much to lose to even give our-not-that-great-yet-small hand?

This new founded thoughts lead me into this phenomenon called “Bystander Effect. 

What in the world Bystander Effect is? Don’t worry, since we live in 21th century, we have Wikipedia to tell us what it means. So, this is what Wiki said :

social psychological  phenomenon that refers to cases in which individuals do not offer any means of help to a victim when other people are present. The probability of help is inversely related to the number of bystanders. In other words, the greater the number of bystanders, the less likely it is that any one of them will help.

One of the best example to explain this is the infamous accident in China where a toddler strucked by van and ignored by people that passing by.

image

In this program, we see how the situation got worse while more people had stopped to watch and yet they didn’t do a thing. It is such a sad and tragic thing to see. But we never knew what are we going to do if we actually are to face that kind of situation. It shows our quality ,in the most sincere and honest way ,as a human being, in what price do we value the humanity? 

Nevertheless, it feels heartwarming to see someone who doesn’t just stand by and watching all of the situation without actually doing something to help. That in this profane, corrupt and tainted world there are still saints who sincerely will lend their hands out for people in need. 

P.S

Anyway, if someone as curious as I am in this so-called Bystander Effect phenomenon and asking inside “Why don’t people just lend a hand and help?”, probably this picture would help you (as it helps me, of course) to look into a mirror. 

image

A bittersweet reminder.