riescheve:

BANDUNG - MOCCA

There’s a little city covered with hills and pleasant weather come on baby I’ll show you around

In my little town every corner tells you different stories there’s so many treasures to be found

welcome to flower city
my lovely city

Roses blooming pretty people say that home is where the heart is It’s a place with so much history

Friendly Bandung city Holds the past of ancient glories and a thrilling future mystery

welcome to flower city my lovely city my friendly city my beloved city

Even though it gets so overcrowded when I’m sitting in my car that stuck for hours But I love it anyway

welcome to flower city my lovely city my friendly city my beloved city

gerypratama:

Seharusnya, rumah menjadi tempat bagi kita untuk melepas semua topeng, menjelma jadi seutuh-utuhnya diri yang asli.

Seharusnya, istilah waktu luang itu tidak ada. Yang ada hanyalah waktu istirahat, dan waktu untuk berkarya dengan segenap hati dan suka cita.

Seharusnya, hujan itu rezeki, bukan…

Mungkin si senyawa abstrak yang terus-terusan merongrong isi kepalamu itu ogah kau keluarkan karena kau tahu kau bakal kecewa melihat wujud nyatanya yang tampak tak berbahaya dalam seutas kata yang diakhiri titik itu

Uh!

Seutas kata yang susah payah kau urai dari gumpalan emosi kusut di dalam dadamu yang jengah
dan lelah memandang wajah-wajah datar yang tanpa suara- memberikan gunting tajam

-terinspirasi oleh Stephen King, The Body

maslilo:

Siang !! Jadi ceritanya jarang banget ane bikin ginian. Tapi berhubung hari ini ada dua makhluk kembar yang entah kayaknya janjian buat keluar bareng ke dunia ini jadi terpaksa ane bikin ucapan gini. Hehe.
Selamat hari lahir buat dua sohib ane hihi.Mulai dari si mbakbro Yanto a.k.a Laksita yang ngakunya cewe ganteng yang udah ane kenal sejak jaman tc osn smp 2008 dulu dan ajaibnya sampai tahun sekarang (2014) rutin tiap taun ketemu. Doanya udah langsung ke atas aja hehe.
Lalu ada mbakbro mamah a.k.a Rahmah yang sejatinya belum pernah kita ngobrol langsung vis a vis sejak pertama kali kenal 2009 lalu tapi selalu asyik berbagi cerita hehe.Selamat hari lahir twins :))

#22september :) 

maslilo:

Siang !! Jadi ceritanya jarang banget ane bikin ginian. Tapi berhubung hari ini ada dua makhluk kembar yang entah kayaknya janjian buat keluar bareng ke dunia ini jadi terpaksa ane bikin ucapan gini. Hehe.

Selamat hari lahir buat dua sohib ane hihi.Mulai dari si mbakbro Yanto a.k.a Laksita yang ngakunya cewe ganteng yang udah ane kenal sejak jaman tc osn smp 2008 dulu dan ajaibnya sampai tahun sekarang (2014) rutin tiap taun ketemu. Doanya udah langsung ke atas aja hehe.

Lalu ada mbakbro mamah a.k.a Rahmah yang sejatinya belum pernah kita ngobrol langsung vis a vis sejak pertama kali kenal 2009 lalu tapi selalu asyik berbagi cerita hehe.

Selamat hari lahir twins :))

#22september :) 

Yet I found another amazing piece from the-ever-so-famous Epik High. 
It’s called 행복합니다 which is literally translated as “I am happy”. The vocabularies are various and the rapping part is not that fast making this song a suitable choice for those who want to learn Korean. 

I
organize my desk once again
download any recent programs
call my son and ask how he’s doing, hang up
and  have a glass of water
one more sip and pour the rest in a flowerpot

fix my tie
pick up the papers in the floor
smile a little more broadly then other people 
stand up and say hello with a smile 
Inside the elevator, I close my eyes and even for just a moment 
lose myself in the fantasy of becoming a bird

I get off
and breathe in the city
walk, and apologize when I bump shoulders with someone 

As I wait for the subway, 
today, too, I silently 
cry out 
What I’m doing right now? Is it right? 
That’s how is it, right? 
But why do I find myself dropping tears?

[In God’s name] Why?


wake up after dozing at my desk 
go to the bathroom and wash my face 
clean up the charts on the table 
pick up the white gown and the stethoscope

open the door and walk up to the coffee vending machine 
same as yeesterday, black coffee [bitter] 
have a sip, 
spit it out and throw the rest away 

I turn around and walk toward the hallway 
greet anyone I run into 

I step into children’s ward and take a look 
"Thank You " says the mother 
I smile and assure her he’ll be fine 

go out to the hallway
ride the elevator to the rooftop 
bite a cigarette, clutch my chest and once again cry out 

I’ll give up smoking today 
I’ll learn something new today 
I’ll carve out a place for myself in this company 

 And once again, stay silent and survive 

I’ll take a deep breath
wet my throat with some cold water
hold this child’s wrist 
surely he wouldn’t leave you? 

I am happy 

I am so happy that I could die 

Tags: epikhigh

Menelaah Mbak Austen: Pride & Prejudice (1)

Karya-karya Jane Austen mungkin salah satu dari novel klasik yang paling sering saya baca berulang-ulang, terutama yang berjudul Pride & Prejudice

image

Pertama-tama karena alasan yang sederhana: keunyuan - yeah.

Tahun 2010, ketika pertama kali saya lihat adaptasi filmnya yang dibintangi oleh aktris terkenal Keira Knightley cukup bikin saya tertarik. Dengan plot ala Cinderella, dengan tokoh wanita miskin dan tokoh laki-laki yang kaya raya mungkin cukup nyantol di pikiran anak remaja tanggung macam saya kala itu. Tapi setelah saya kepo di balik nama besar Jane Austen dengan membaca dan “merasai” dengan lamat-lamat tiap karya-karyanya mungkin akhirnya saya mengerti bahwa gagasan yanng ingin Jane Austen sampaikan bukan hanya kisah fantastis pelarian-seorang-wanita-miskin-karena-pertemuannya-dengan-pangeran-yang-kaya-dan-ganteng. 

Bukan. 

Ada alasan kenapa novel ini masih laris manis bak kacang goreng dan bertahan dari gempuran novel-novel baru selama nyaris dua abad. 

Menggambarkan dengan jelas situasi sosial yang dihadapi oleh perempuan pada masanya, mungkin tepat jika menyebut Jane Austen sebagai seorang feminis.
Plot yang dipakai sebagai latar belakang novel ini masih sesegar kasus-kasus dalam pernikahan yang terjadi bahkan sekarang ini. Novel ini bercerita tentang Lizzy seorang perempuan cerdas dari latar belakang keluarga sederhana dengan ibu yang selalu cemas dengan nasib masa depan kelima anaknya (yang semua perempuan), dan ayah selalu bersembunyi di dalam perpustakaan. 
Jane Austen secara sembunyi-sembunyi meneriakkan kefrustasiannya tentang hak dan kewenangan perempuan dalam masa itu. Terutama pada anggapan umum bahwa seorang kesuksesan perempuan salah satunya ditentukan oleh pernikahannya karena hukum warisan dimana hanya anak laki-laki yang mendapat warisan. 
Lalu dimulailah sebuah perjalanan yang dialami Lizzy untuk menguji idealisme yang ia pegang dan realita yang sebenarnya terjadi. 

#KASUS 1 : Ketimpangan

Bicara tentu lebih mudah, bahkan teman sepemikiran Lizzy, Charlotte pun akhirnya menikahi seorang pria konyol yang jelas tidak lebih pandai dari dirinya dengan argumen yang menyedihkan namun realistis, memberi ruang pada  pembaca seberapa sering hal ini terjadi di dunia modern sekeliling kita. 

Charlotte Lucas: Oh, for Heaven’s sake! Don’t look at me like that Lizzy! There is no earthly reason why I shouldn’t be as happy with him as any other. 
Elizabeth Bennet: But he’s ridiculous! 
Charlotte Lucas: Oh hush! Not all of us can afford to be romantic. I’ve been offered a comfortable home and protection. There’s alot to be thankful for. 
Elizabeth Bennet: But… 
Charlotte Lucas: I’m twenty-seven years old, I’ve no money and no prospects. I’m already a burden to my parents and I’m frightened. So don’t you judge me, Lizzy. Don’t you dare judge me! 

Pun situasi yang terjadi dalam keluarga Lizzy sendiri, ketidakcocokan dan ketidaksamaan visi yang amat sangat timpang antara kedua orang tuanya membuat keluarga itu nyaris seperti bongkahan yang terpecah-pecah. Ibu yang nyaris konyol dan pemikiran yang dangkal serta Ayah yang diam menunggu, mempertanyakan kecerdasan istrinya dalam kalimat-kalimat berlekuk dan meliuk cukup membuat anak-anak gadis dalam keluarga itu tumbuh dalam dunianya masing-masing. Kedua anak tertua memilih sikap logis, yang tengah menjadi canggung dan amat perasa sedangkan kedua yang terakhir memilih untuk tenggelam dalam ketidakpedulian untuk bersenang-senang di pikiran sempit yang terbatas. 

Itu cukup menyesakkan, ternyata. 

Pengalaman tersebut cukup membuat Lizzy untuk menolak lamaran Mr. Collins, sepupunya yang konyol, congkak dan rajin menjilat bosnya dengan pujian berlebihan- Penolakan yang dianggap sangat tidak tahu diri pada zamannya dan cukup untuk membuat ibu Lizzy tidak mau mengakuinya sebagai anak. 

Cukup familiar kah? 

Menurut Robert Sternberg dalam Triangular theory of love, kekurangan Komitmen dan Intimasi dalam sebuah hubungan lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan itu sendiri. Sekarang pertanyaannya, bagaimana mempertahankan kedua komponen tersebut ketika pihak yang berlainan tidak berbicara dalam “frekuensi” yang sama denganmu? 
Ketika nanti di hari tua, kau bahkan tidak bisa berbicara panjang lebar dengan teman seperjalananmu karena kalian menggunakan kacamata pandang yang amat sangat berbeda tanpa titik temu untuk menghubungkan keduanya? 

 Mungkin ada alasan di balik kenapa mbak Jane Austen ini tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya.. Keputusan yang amat sangat berani terutama mengingat bagaimana reaksi kelompok sosial pada zaman tersebut kepada manusia-manusia yang menyandang gelar “perawan tua”. 

PROLOGUE - Perjalanan

“Ada yang pernah mengatakan kalau salah satu perbedaan besar antara manusia dan hewan adalah bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari eksistensi dirinya di dunia ini dan eksistensi dunia di sekelilingnya.

Kesadaran bahwa yang nyata di dimensi ini bukan cuma aku, kamu dan secangkir kopi yang mengepul hangat ini saja. Bukan cuma kafe berpenerangan kuning keemasan ini dengan mahasiwa kere yang dari tadi asyik memakai wifi di sebelah sana dengan secangkir americano yang sudah lama kosong atau sekumpulan remaja tanggung di sebelahnya yang dari tadi asyik selfie dengan kamera digitalnya. 

Maksudku, apa yang luput dari pandanganku pun sama hidupnya, sama nyatanya dengan aku yang sekarang berbicara padamu.
Manusia di belahan bumi yang sana atau mungkin pengamen di jalan itu datang dari sari kehidupan yang sama dengan sel-sel dan daging yang sama hidupnya. 

Bisakah kamu bayangkan? Berapa miliar hembusan napas yang saat ini sedang bersama-sama dihembuskan oleh penduduk di dunia ini? Berapa ratusan miliar pikiran yang terlintas? Pengalaman yang terbayang? Mimpi yang ingin dicapai? Berapa macam jenis kenyataan?”

Aku melihat ujung bibirmu naik ke atas. Matamu memandang jauh seolah kau membayangkan wajah-wajah transparan di dunia yang nampak berbeda.

Kau tergelitik, itu jelas.

“Apa kenyataanmu?”

Melirik sebentar ke uap semerbak dari kopi hitam yang membumbung perlahan, aku terdiam sebelum menjawab.

“Kesadaran bahwa mungkin segala yang aku anggap penting sekarang hanya merupakan ketidakmanfaatan. Bahwa mungkin sekarang kamus yang dengan dulu ku pegang-pegang dengan bangga cuma kamus tiruan dari sebuah kamus ideal yang sempurna. Segala definisi yang ada disana cuma salinan belaka dari kosakata-kosakata dasar yang bahkan tak ku tahu apa maknanya.

Singkat kata: Kesiasiaan”

Matamu mengernyit ketika kembali mendengar kata-kata sama yang kembali aku muntahkan. Mungkin kau  melihat sekilas ekspresi mual dari rasa pahit yang terasa di ujung lidahku saat aku kembali mengecap kata itu. Aku pikir aku berani ketika bisa mengatakannya berulang kali. Menghadapi rasa pahit yang tak tertahan itu.  

“Bukankah.. “

Kata-kata itu mengambang sebentar di udara yang terasa pekat sebelum berhenti dan menghilang. Kau menghela napas sebelum melanjutkan.

“Kenyataan bahwa kenyataanmu sekarang adalah sebuah kesadaran bahwa kenyataanmu bukan merupakan kenyataan yang sebenarnya merupakan bukti nyata untuk mematahkan argumenmu sebelumnya.”

Cengiran lebar terbit di wajahmu nyaris seketika.

Bunyi pintu kafe yang dibuka-tutup oleh pengunjung kafe tiba-tiba berderit lebih nyaring. Begitu pun obrolan-obrolan yang sebelumnya nyaris terdengar seperti dengungan kini naik beberapa oktaf menjadi sebuah bisikan harmonis mengiringi melodi lagu-lagu indie yang mengalir lembut, berputar di udara yang hangat keemasan dipenuhi cahaya dari lampu kuning di seberang ruangan sana.

“Kamusmu tidak sepenuhnya salah. Kita semua meniru sebelum akhirnya mengerti makna yang sebenarnya. Well, kamu pikir bayi kecil itu benar-benar tahu makna dari kata ‘Mama’ ketika ia mengucapkannya kali pertama?

Kita semua adalah bayi-bayi besar yang masih belajar untuk mengecap makna dari tiap kata.”

 

Tags: cerpen

The good fighters of old put themselves beyond the possibility of defeat and then wait for an opportunity of defeating against the enemy 

To secure ourselves against defeat lies in our hands, but the opportunity of defeating the enemy is provided by the enemy himself

Thus the good fighter is able to secure himself against defeat but cannot make certain of defeating enemy 

Hence the saying: One may know how to conquer without being able to do it 

SunTzu - Art of War

Menarik sekali mencermati ini. Dalam konsep fleksibel yang bisa dipraktikan bahkan untuk mengalahkan tantangan-tantangan dan kesempatan dalam kehidupan sehari-hari, SunTzu berpendapat kalau untuk mencapai kemenangan atau keberhasilan  itu dibagi dalam dua tahapan yang saling berhubungan, yaitu:

  1. Mengoptimalkan kemampuan sehingga berada di luat kesempatan untuk kalah 
  2. Memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengalahkan musuh 

Komponen pertama bersifat internal jadi hanya kita yang bisa menentukan apakah usaha yang kita lakukan itu sudah cukup untuk memenuhi standar “jauh dari kekalahan”.
Namun, “jauh dari kekalahan” berbeda dengan “tidak kalah”.
"Jauh dari kekalahan" berarti  berada dalam posisi yang menunggu kesempatan untuk mengalahkan- suatu keadaan yang hanya bisa diberikan oleh kelengahan musuh. Dalam mencapi kondisi tersebut, kita tidak hanya saja perlu meningkatkan kemampuan tapi juga menutup semua kemungkinan yang ada untuk mencegah musuh menyerang. 

Komponen yang kedua bersifat murni eksternal. Untuk bisa mendapat kemenangan itu sendiri sesungguhnya sama sekali tidak ada dalam kewenangan kita. “Kesempatan”, “Faktor X”, “Kehendak Tuhan” , begitulah kita mengenalnya dalam berbagai nama.
Bisa saja seseorang yang memiliki otak yang pintar, personaliti yang baik ternyata memiliki prestasi yang biasa-biasa saja. Kenapa? Alasannya dijawab oleh Suntzu dalam faktor kedua tadi: 

"Hence, the saying one may know how to conquer without being actually able to do it "

Dan begitulah banyak dari kita (baca: manusia) berkeliaran, beranak-pinak di dunia yang luas ini berusaha membanting tulang umtuk memaksimalkan porsi komponen pertama ini tanpa mengingat komponen kedua yang sama-sama krusial. 

Singkatnya: kita berusaha untuk kesempatan yang tidak pernah ada. Mengisi penuh air ke gelas yang tak pernah ada. 

Well, mungkin ada baiknya kita meminta gelas tersebut lebih dulu ke Pemiliknya. Pemilik gelas-gelas alam semesta. 

Risiko

image

Kalau pada suatu titik kita berada dalam suatu keadaan yang riuh akan suara-suara sumbang, secara otomatis tangan kita akan langsung menutup kedua telinga dengan seerat-eratnya. Kemudian, suara itu akan teredam dan kita pun akan merasa lebih tenang. Mungkin kita akan berlalu sambil mengacuhkan suara-suara yang membuat telinga pekak itu. 

Namun, muncul satu pertanyaan?

"Kapan kita tahu Suara Pekak itu telah berakhir?"

Ah, mungkin itu sebabnya aku dan kamu sekarang berada dalam dunia hampa suara.
Kita memandang bingung ke arah burung-burung yang bercicit di pagi hari 
Melihat ibunda yang bersenandung di dapur dengan keheranan

Di dimensi yang sunyi ini, apa saja yang telah kita lewatkan? 

Tags: refleksi